kanvas hitam
fajar membiru di pematang kaki angkasa. hiruk pikuk gemuruh suara jiwa memenuhi rongga udara di bangsal hati, berapa banyak tanya ? tak terjawab. mengenang sebuah kisah, sebuah alur rasa terbungkus beku waktu. terpenjara, oleh ketidak mampuan diri memahami sebuah tanda. membaca kenyataan yang terkadang samar dan bias. adakalanya ketika wajah itu kembali melintasi screen kenangan, senyumnya, derai tawanya, lesung pipinya. akh masa yang begitu biru di awal hari. perjalanan yang jauh dan berakhir derai airmata. darimu aku banyak berkaca, melihat lagi apalah aku ini. hanya aku yang bukan siapa siapa, tetapi selama aku bernyawa maka aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.
hari masih pagi ketika ku jejakan langkahku melintasi kota indah di tengah pulau jawa. kota dengan budaya jawa yang kental, di mana banyak pelajaran yang bisa di ambil dari kota ini. kekuatan olah pikir dan budaya terasa sangat kental di keseharian penduduknya. kota indah dengan sebutan "Solo" , mentari masih terlelap dan beranjak membuka mata tetkala aku melintasi pagi yang dingin. ku rapatkan jacket dan menaikan tali ransel meninggalkan terminal tirtonadi, beranjak ke arah timur dan mencari kehangatan kota ini dengan Angkringannya. berharap sejenak memejamkan mata hati dan membaca pagi.
" pak bus ke arah grajegan itu jam berapa baru ada ?" aku menanyakan ke penjual angkringan karena di terminal tak ku temukan jadwal bis seperti di purabaya.
" oalah, masih nantiu jam setengah tujuh, adhik ini dari mana ? kok ngomongnya bukan seperti orang sini " jawab lelekai paruh baya itu sembari meletakkan kopi di depanku.
" saya dari sidoarjo pak, "
" sidoharjo ? " lelaki itu menegaskan.
" bukan pak, tetapi sidoarjo hmm lumpur lapindo " tukasku. karena jarang orang tauh kota ini selain surabaya, tetapi sejak bencana lusi. maka banyak orang mengerti di mana kota ini berada.
" mau kemana ? kok sampe ke grajegan, "
" sebetulnya saya mau ke sini pak, tetapi teman saya pulang ke kampung, jadi saya harus ke sana, saya dengar desa itu cukup indah ya pak ? "
" ya, tetapi di sana sepi dhik, penduduknya banyak yang bekerja di kota, terlebih pemudanya. baiklah bapak tinggal dulu, ndak nyoba makan timlo ? '
" ah terima kasih pak, tetapi saya belum lapar mungkin lain kali "
sepanjang perjalanan aku banyak menemukan kesederhanaan hidup, orang orang dengan wajah ramah dan senyum. jarang rasanya bisa naik bus kota dengan pedagang sayur, mbok mbok jamu, ha realita yang nyata. terbersit rasa syukur betapa aku begitu beruntung, bisa menyisakan waktu travelling sementara manusia yang lain bertengkar dengan waktu tuk berjuang hidup.
setelah perjalanan yang panjang. akhirnya sampai jua di jatitengah. seperti orang bego aku tengok kanan kiri gak jelas. sepi amat nih kampung ? tetapi worth it ama pemandangan berbukit sepanjang mata memandang, tak kusadari pandanganku bertumpu pada sebuah wajah dengan senyum manja. pipinya dan lesung di sana menjerat siapa saja yang melihat. well this journey is awesome.....
" ha ha ha, kesian terdampar di terminal, dah di bilangin telfon dulu. " gadis itu menraik lenganku dan mengajak aku turun di jalan cinta. membiarkan rindu terbias bersama mentari,
“ maunya tadi pengen buat kejutan, eh sapa yang tauh kamu gak di kost. Janjian ama mas didi kempot juga gak jadi he he he “
“ lagian, kemaren katanya gak jadi ke sini. Ya aku pulang.”
kami memasuki sebuah rumah yang sederhana, mengingatkan halaman rumahku. Pastinya sepi, ayah dan ibunya pasti masih di solo. Rumah yang nyaman dengan gaya jawa tengahan, halaman yang luas dengan pepohonan rindang.
“ si mbok di solo, kamu kemaren gak mampir ? “
“ aku nyampe aja jam setengah tiga pagi, pasti udah tutup warungnya,”
bisu...................
waktu berdentang lirih. Dan kami pun hanya berbicara dengan mata. Meski banyak hal yang harus kami bicarakan tetapi rindu ini mengalahkan segalanya. Seperti kanvas tanpa noda semua ini berjalan begitu lembut dan terlalu menyakitkan bagi pena cerita yang menunggu kisah apa yang akan tertulis selanjutnya.
“ maafkan aku rey “ ia membuka kata dengan sebuah kata maaf. Untuk apa ? Bukankah seharusnya aku yang layak mengucapkan kata itu. Aku yang mencari cari celah dan ruang terbuka di hatinya. Sebentuk tempat untuk aku berdansa dengan asmara. Meski hatinya bukanlah milikku, setidaknya begitu menurut teman temannya.
“ buat apa ? Bukankah semua ini begitu indah, untuk apa sebuah kata maaf harus terselip di rangkai indah kembang rasa ini. Tak layak rasanya hari ini ternoda dengan kata maaf “ ku lihat lagi elok bening mata jiwanya yang masih kerap menggoda.
Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu
Membaca dan mengerti isi hatimu
Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian
Mencoba mencari celah dalam hatimu
Aku tahu ku takkan bisa
Menjadi s'perti yang engkau minta
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
Menjadi seperti yang kau minta
Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian
Mencoba mencari celah dlm hatimu
Aku tahu ku takkan bisa
Menjadi yang s'perti engkau minta
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
Aku tahu dia yang bisa
Menjadi s'perti yang engkau minta
Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba
Menjadi s'perti yang kau minta
Rasanya begitu aneh. Ketika aku menemukan dua keindahan di sini, di pematang sawah yang terkurung damai perbukitan. Dan sebuah raga yang berbukit indah, apa yang salah ? Waktu kah ? Atau kebodohanku atas penerjemahan sebuah penawaran hati. Salah ? Salah atas nama apa ? Tidakkah wajar dua insan jatuh cinta dan memaparkan pengartian dengan cara mereka sendiri. Ataukah pengartian ini mengorbankan lembar kisah lain. Kisah seseorang yang lain. Di manakah aku ? Aku merasa di tengah tengah, antara ya dan tidak, antara dosa dan pahala. Antara hitam dan putih tapi bukan abu abu.
“ harusnya kamu datang lebih awal rey, “ ku rasakan gemuruh jiwanya di tiap huruf kata kata itu, getaran resah di pelukannya. “ harusnya kamu yang menjadi Dia. ''
“ Tidak, aku tak bisa menjadi dirinya. Aku adalah aku yang bukan siapa siapa. Tetapi aku kan mencoba menjadi seperti apa yang kamu minta ''
“ luka ini kan terasa tiada akan bisa sembuh rey, terlalu banyak hal indah yang kita korbankan, dan aku tauh aku bukanlah satu satunya di hatimu, masih ada yang lain di sana. Di telagamu di angkasamu, di belahan indah rasamu. Tidak hanya aku, kembalilah. Biarlah kisah kita terhempas angin perbukitan ini, biarkan semua larut dalam heningnya.
Janganlah pernah kau harapkan aku
Untuk dapat mencintai dirimu
Coba renungkan dalam hati kita
Perpisahanlah yang mungkin terbaik
Reff:
Lupakan aku
Jangan pernah kau harapkan cinta
Yang indah dariku
Lupakan aku
Ku punya cinta lain yang tak bisa
Untuk kutinggalkan
Cinta Yang Lain (feat. Chrisye)
Realita kembali tertawa. Membawaku membiarkan semua resah pergi, bukankah ia masih di pelukku, untuk apa berfikir tentang semua yang belum terjadi. Siapa yang tauh tentang kisah esok, tentang apa yang akan terjadi beberapa menit lagi saja tak ada yang bisa menerka. Selain sebuah praduga dan kira kira manusia.
“ Tuhan. Gembalakan aku di jalan yang lurus. Di jalan yang di bawah oleh sang Rosul. Tiadakan bulir bulir pasir dosa ini, selamatkan aku dari gelombang asmara yang perlahan menyeretku dalam gamang. Jangan biarkan hambamu ini tertidur dalam senggama. Bangunkan aku di atas api waktu, biarkan nyalanya membuka lagi mataku yang terpejam. “
bersama senja, aku meninggalkan dimensi ini, melepas segalanya yang terasa indah. Adanya ini adalah pelajaran cinta.
“ semoga, aku bisa '' hanya itu yang bisa ku ucapkan. Ketika ia melepas jemariku dan membiarkan airmatanya membaur bersama kabut yang perlahan mengendap, bersama semua kisah manis ini.
“ sampai jumpa di lain kisah rey “ gadis itu memelukku erat. “ kau bagian terbaik kisahku, meski ku tak ingin lagi kau ada di kanvas kisahku. Tetapi kaulah yang terbaik “ ujarnya seraya tertawa. “ rasanya sulit menemukan lagi orang sepertimu. “ tak bisa di tahan akhirnya pecah juga tangisnya di dekapku di ujung senja.
“ Terima kasih atas indah ini '' akupun melepas peluknya ketika bus itu telah datang, bis masa depan yang akan mengantarku pada waktu yang baru. “ selamat jalan sayang '' tuk terakhir kalinya kecup itu terjadi dan pelukan terakhir meski tanpa ciuman.
Bisa bisanya mataku menjatuhkan airmata, seketika ku keluarkan kameraku dan membuka foto foto yang barusan terambil. Ada keinginan untuk menyimpannya sebagai prasasti waktu, atau menjadikannya wallpaper jiwa, tetapi. Seketika jariku menekan tombol format memory. Akhh lega. Hilang sudah semua sesal dan kesal. Sesala atas apa ? Bukankah tak terjadi apa apa ? Lebih baik memory ini berisi keindahan kota kota ini, tentang sudut sudut solo yang antik, wajah wajah mbok jamu gendong, mbok mbok pembatik, hiruk pikuk senja, dan mungkin aku bisa menangkap secuil senyum mentari di ufuk senja.
Belajar dari yang lalu ada baiknya pulang ke surabaya dengan kereta api, ku keluarkan kartu sakti, dan inilah moda transportasi anti macet. Selamat malam solo, selamat tinggal. Beserta gerbong yang bergerak perlahan meninggalkan balapan akupun mencoba memejamkan mata, membiarkan lusuhku reda, tetapi kiranya Tuhan berkata lain. Di depanku, tepat di depanku. Sosok malaikat kembali terlihat duduk dengan cueknya dan mengenakan headset, sesekali melihatku acuh.
“ mas, dari mana ? Abis di putusin yah kacau banget '' tiba tiba kata itu meluncur indah dari sepasang bibir indahnya.
“ he mungkin, mungkin benar kata kamu, tetapi ada yang salah sedikit, aku bukan di putusin, tetapi kiranya Tuhan menginginkan aku bisa bertemu dengan gadis seperti kamu ''
“ berarti sebuah kemalangan bagiku “ jawab gadis itu lirih seraya melepas head set nya, “
“ santai aja malang masih jauh “ gumamku seraya ngeluarin kamera.
“ sok tauh '' jawabnya ketus. “ mau gak ? '' ia menawarkan sebungkus snack. Wah kalo ini snack ada biusnya biarin lha, asal gak bius sampe koit.
“ Terima kasih, semoga aja dalam snack ini ada bius kamu ? '' ujarku seraya membuka bungkusnya.
“ males banget ngeracunin orang sepertimu ''
lama lama pembicaraan semakin intens dan isi gerbong semakin padat, dan sebuah kesempatan ketika ada ibu ibu dan suaminya duduk di kursi kami, dan ia meminta agar duduk sama istrinya,
“ sialan “ gumam gadis itu seaya pindah ke sampingku.
“ senggol bacok '' ancamnya.
“ yach, “ jawabku.
“ pacarnya mas ? '' tiba tiba ibu di depan kami bertanya.
“ hmm ya bu, ibu mau kemana ? “ dengan santai ia nyerocos menjawab pertanyaan ibu ibu itu, di mana ada dua wanita bertemu, hilang sudah senyap.
Malam menua. Dan semua mulai terkapar oleh letih selain roda baja yang menggilas rel. dia akhirnya meyerah dengan letihnya, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Hmm siapapun dirimu pasti akan ku jaga, jika kau minta akupun mau menjaga hatimu. Biarin kau milik siapapun kali ini kita bukan milik siapa siapa.
Tertutup satu kanvas oleh warna hitam, bukan berarti berakhir cerita sang kuas melukis waktu, lembar hitam bisa menciptakan lukisan baru yang tak pernah bisa di duga hasilnya.
Road of hearth. Solo surabaya 22 nov 2007.
Komentar
Posting Komentar