permintaan hati.

Apa yang akan kita rasakan ? ketika tim dokter menyatakan bahwa hidup kita tak lebih dari beberapa bulan, sekian bulan kita harus menjalani rangkaian metode pemeriksaan dan penanganan medis yang rumit dan panjang. Dan itu semua belum cukup ?. Tuhan memberi satu lagi, ketika itu semua terjadi. Kita bukanlah seseorang yang punya sejumlah uang yang cukup untuk menebus semua biaya di atas. Apa yang akan kita lakukan ? Pasrah ? Mungkin adalah hal yang paling masuk akal. Tetapi tentu kita tak akan diam saja. Rey, seorang anak muda biasa, hidup seorang diri sejak kecil. Dimana orang tuanya ? pertanyaan ini bertahun tahun coba di pecahkan olehnya, tapi seperti bayangan. semua jawab akan pergi ketika ia semakin dekat. Rey hidup dengan segala kecukupan, bukan dari sebuah warisan, bukan juga hasil lotere, semua itu butuh proses panjang. Sejak belasan tahun ia membangun sebuah sistem penjualan. Menyalurkan hasil perkebunan langsung ke supermarket dan pasar. Seseorang mengajarkan banyak ilmu penjualan, dan dua tahun terakhir ia bertemu seorang gadis yang mengenalkannya akan metoda penanganan tanaman sayur dan buah secara organik. Luna, begitu rey kerapkali memanggil nama gadis itu, seorang gadis sederhana yang tinggal di sebuah desa. Tempat di mana rey menjalin kerja sama dengan petani sekitar, dan gadis itulah sebagai organisator tim petani setempat. Ia sangat aktif, cekatan dan rendah hati. Namun, ia sulit mengimbangi aktifitasnya dengan kondisi kaki kirinya yang mengalami kelumpuhan sejak dua tahun lalu. setelah rey mengenalnya, rey sudah membawanya ke beberapa rumah sakit. namun jawaban dokter semua hanya sebuah gelengan kepala, hasil rontgen dan pemeriksaan menyatakan tak ada yang salah, namun entah kenapa kaki tersebut seolah enggan untuk melangkah. Namun gadis itu hanya tersenyum dan selalu ceria. “ setidaknya Tuhan tak mengambil kedua kakiku, mungkin Tuhan menginginkan aku lebih dekat dengannya “ begitulah jawaban yang di dapat rey ketika ia menanyakan bagaimana perasaannya. Siang yang cukup terik, rey keluar dari sebuah bank dan membawa selembar print out, kondisi keuangan merosot seiring kondisi penjualan dan bisnisnya yang sedang menurun, kondisi cuaca yang masih tidak stabil membuat hasil panen mengalami degradasi mutu. Dan suplai ke konsumen pun mengalami gangguan, untungnya sahabat sahabatnya membantu untuk mensuplai dari daerah lain, tetapi secara tidak langsung pendapatannya menurun drastis. Apalagi di tambah kondisi pasar domestik yang cenderung memilih buah import, meski secara mutu mungkin tak lebih baik tapi secara harga dan ketersediaan barang yang cenderung stabil membuat konsumen lebih memilih buah buahan import sebagai pilihan, rey hanya tersenyum. Apa lagi yang bisa ia lakukan, pemerintah juga imponten menangani masalah seperti ini, jangankan buah, beras saja mereka memilih import...hmm menyedihkan, Senja menemani rey duduk di depan warung kecil di tepian sawah yang mulai mengering, dari jauh mesin pemanen padi nampak melintas dan pergi, pemandangan baru bagi kaum petani, dan sebagian dari mereka termenung, mungkin jasa mereka akan terganti oleh kecanggihan mesin mesin, tetapi setidaknya tuhan maha adil ketika musim penghujan mesin mesin itu gak mungkin mampu menggantikan mereka, sampai teknologi terbaru akan hadir dan mereka akan benar benar menjadi pengangguran. “ Ada apa ? “ luna ikutan duduk di samping rey dan meletakkan kruknya, “ ga papa, hanya liatin senja “ “ ada apa dengan senja ? “ “ entahlah, aku selalu suka dengan senja, temaram, sendu dan membawa ketenangan “ “ eh, aku boleh tanya gak ? “ luna menatap rey sejenak, “ boleh, kenapa ? “ rey beralih dan menghadap ke arah gadis jelita itu, rambutnya di permainkan angin senja dan bibir tipisnya menari indah mencercah dengan sejuta kata . “ Kenapa sih kamu suka banget naik gunung, emang gak capek ? trus masuk masuk hutan, ga takut tersesat. Dan pas kamu kirimin aku mms pas kamu surfing aku sempat bertanya dalam hati apa kamu gak takut tersapu ombak dan menghantam karang ?" Luna menemukan hanya sebuah senyum di wajah cowok di depannya. “ Aku bukan paranormal atau seseorang yang bisa mengartikan jawabmu hanya dengan senyuman, jadi bisakah kau ceritakan padaku “ luna tersenyum manja. Lama terdiam, rey menghela nafas dan memandang luna. Angin senja memainkan rambut panjangnya. “ lho buruan “ gadis itu menatap berbinar ke arah rey yang berdiri membelakangi matahari senja. “ jawabannya akan panjang, jauh lebih panjang dari sungai Nil, akan lebih luas dari samudera, jauh lebih tinggi dari puncak everest,....” “ akh, ngeselin “ luna tersenyum dan jauh di lubuk hatinya ada rasa kagum terhadap cowok di depannya, menjadi sahabatnya adalah hal yang menyenangkan, tetapi untuk menjadi kekasihnya ? Luna tak banyak berharap, ia takut harapan itu akan menghancurkan kelak. Menjelang malam mereka berdua berjalan beriringan, meninggalkan senja dan membiarkan senja menulis cerita baru di belahan bumi yang lain sebagai fajar. Seperti kehidupan, adakalanya sebuah akhir dari sebuah kisah akan menjadi awal bagi kisah yang lain, Tuhan memberikan pelajaran kepada manusia melalui visual dan ketajaman rasa untuk belajar, lihat. Ketika tunas muda tumbuh di antara batang batang pohon yang rubuh dan terbenam tanah sebagian, dan sang tunas pun tumbuh menjadi pohon yang memberi keteduhan, menjadi pabrik oksigen, buah, daun, ranting nya pun membawah berkah, tetapi tak selamanya. Ada masanya ia akan terjerembab ke bumi, agar tunas muda yang lain mempunyai kesempatan sepertinya berguna bagi alam raya dan makhluk di sekitarnya. Sebingkai potret nampak di letakkan seorang dokter muda di samping tempat tidur rey, potret berisi sekelompok anak muda yang berdiri di sebuah tepian hutan pantai, masa masa yang begitu indah belasan tahun yang lalu. “ hei, hari ini akan ada pemeriksaan “ bisik dokter itu, “ aku ingin pulang “ jawab rey lirih . “ kita semua yang disini juga berharap kamu segera sembuh rey “ “ bukan itu “ rey menggeleng dan menarik lengan dokter yang hampir sebelas tahun telah merawatnya. “ aku ingin kembali ke tempat itu, begitu damai, hampa dan sedikit menakutkan.” “ kenapa ? tidakkah ada keinginanmu lagi untuk berdiri di puncak everest “ Adianti duduk di dekat rey. “ aku hampir bangkrut, bahkan membayar semua ini saja harus merepotkan dirimu, bagaimana mungkin aku bisa ke everest “ Adianti tersenyum, dan terus mencoba membangun semangat rey, “ bagaimana kalo ke Rinjani saja, atau ke semeru ? “ jawab adianti. “ aku tak yakin kamu bisa, lagian mana mungkin aku mau menggendong kamu, ntar bisa bisa aku di gebugkin ama giant “ rey menanggapi sahabatnya itu. Ruangan itu pecah oleh suara tawa mereka. “ hei, tadi Luna sms. “ dokter muda itu menyerahkan ponsel rey, “ kalian pacaran ya ? “ “ ngaco “ jawab rey sembari menutup ponselnya, “ kalo gak ngerepotin ntar pas pulang mampir ke rumahnya ya, jangan bilang aku di sini. Bilang aja naik gunung atau apalah “ “ boleh, sekalian aku mau nanya, apakah seorang rey udah menyatakan cintanya “ Adianti menggoda rey. “ sudahlah, kamu pasti tauh apa jawabnya “ rey menutup matanya “ aku mau tidur dulu, ntar kalo aku bangun dan bertemu Tuhan aku mau bilang agar DIA mengirim kekasih yang baik buat kamu, dan agar DIA memberikan kesembuhan pada Luna.” “Bagaimana kalo aku request agar Tuhan memberimu kesembuhan “ Adianti mencium kening sahabatnya sebelum ia pergi. Dan rey mengantarnya dengan senyuman. Sepanjang lorong ia tak henti hentinya meneteskan air mata, ia merasa tak sanggup menjalani hari hari ini, seseorang yang selalu ada ketika ia sedang susah dan bahagia, sahabat yang selalu ceria dan tak pernah mengeluh, pribadi yang sering lebih dewasa ketimbang dirinya, yang kerap kali memberikan nasehat dan opini dari sudut pandang yang berbeda. Kini harus menjalani hari hari beratnya, bertarung dengan waktu meniti takdirnya sebagai manusia. “ Tuhan, berikanlah ia kebahagiaan, andai ini yang terbaik berikanlah akhir yang indah baginya “ Adianti berhenti di depan jendela besar dan memandang gemintang yang bertebaran di angkasa. Adianti menemui luna dan menceritakan semua tentang persahabatannya dengan rey, juga tentang kesenangan dan aktifitas rey di luar. “ dia seperti adikku, kadang seperti ortu buatku “ celetuk adianti, “ dia selalu saja misterius, “ jawab luna. “ dia sekarang di rumah sakit, beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa dia mengidap penyakit yang amat langkah, dan belum ada laporan resmi yang menyatakan penderitanya biasa survive, tetapi kami yakin rey mampu “ Adianti sembari berkaca kaca menceritakan hal itu. Sementara luna hanya terdiam, dan menerawang tentang pertanyaan nya di sebuah senja, mungkinkah karena hal itu rey selalu menyempatkan diri untuk bertamu pada alam raya. Membiarkan jiwa kecilnya berguru tentang arti hidup kepada sang alam raya. Membiarkan kesedihannya luruh bersawa embun dan mengaliri waktu ke samudera. “ Alam raya bukanlah tempat pelarian atau tempat sembunyi bagi jiwa kita yang rapuh, di sanalah kita harus berguru dan belajar, sebagai makhluk sempurna kita juga harus menyadari betapa kita bukan siapa siapa, dan alam raya adalah tempat sekolah bagi jiwa dan hati “ adianti mengucapkan apa yang pernah ia dengar dari rey. Ketika ia bertanya tentang kesukaannya berpetualang. " Aku pernah bertanya tentang itu, tetapi dia hanya tersenyum " luna menanggapi apa yang di ucapkan adianti. " Begitupun aku, butuh waktu lama dan susah payah agar ia sekedar mengatakan padaku apa alasannya suka beraktifitas di luar. Malam semakin dingin saat mereka mengakhiri pembicaraan, dan luna meminta agar Adianti menginap saja, karena malam ini sepertinya akan hujan. Selepas fajar, adianti termenung di depan warung dan memandang indahnya pagi, hamparan luas ladang menghijau. Udara bercampur embun, sebuah oase bagi keringnya aktifitas hidupnya sebagai dokter muda. Luna memanggilnya masuk, karena ponselnya berdering beberapa kali. Dan adianti dengan perasaan ga enak menelpon balik ke nomer koleganya di rumah sakit. “ ya selamat pagi, ada apa dokter ? “ adianti menjawab panggilan dari koleganya di rumah sakit, “ kondisi pasien menurun, pantauan alat vitalnya mengkhawatirkan. Sekarang sudah di tangani di ruang ICU. Dokter segera kemari kami mebutuhkan anda secepatnya. “ Jawab seseorang di sberang telepon. “ i..ya “ ponsel itu terjatuh dan adianti merasakan kesadarannya mulai tergoyahkan dan mungkin pingsan andai luna tak ada di sampingnya. “ ada apa mbak ? “ luna memberondong adianti dengan pertanyaan, “ rey kritis “ jawab adianti lirih dengan pandangan kosong. Luna seketika merasakan tubuhnya gemetar, dan air mata seketika membanjiri matanya dan bibir kecilnya tak henti henti mengucap doa agar rey baik baik saja, orang tua luna pun terkejut dan segera menutup warungnya, beberapa petani binaan pun bergerombol di depan untuk menunggu kabar, sebagian dari mereka ingin ikut ke rumah sakit. “ kakiku “ ucap luna terbata ketika ia berdiri, “ kaki ku mbak “ luna merasakan lagi kakinya bisa merasakan menginjak bumi, dan ia mencoba melangkah, Ya Allah, ibu aku bisa berjalan lagi “ luna memanggil ibunya, dan itu membuat orang orang takjub, tetapi tidak bagi adianti, dalam benaknya ia mencoba tegar,” rey, apakah kau sudah bertemu dengan Nya, hingga luna kini bisa berjalan lagi, apakah ini permintaan terakhirmu kepada DIA yang maha kuasa atas segalanya “ Di ruangan itu nampak luna dan kdeua orangtuanya, beberapa petani binaan, beberapa sahabat petualangnya, juga dua orang mitra bisnisnya, semua menunggu hasil kerja tim dokter yang berusaha menyelamatkan jiwa sang anak manusia, Adianti melepas masker dan sarung tangannya dan mencuci tangan nya , tetapi ia tak mampu mencuci kenyataan, ia terdiam di depan cermin, dan matanya benar benar banjir dengan airmata, “ Tuhan tauh apa yang terbaik dokter, dan anda sudah melakkan yang terbaik“ seorang koleganya menepuk bahu adianti. “ terima kasih“ Di ruangan itu semua tersekat, beku dan biru tak ada air mata atau deru tangis semua memandang ke lantai, hanya luna yang masih berpelukan dengan adianti, “ ia telah pulang luna, ia telah menenemukan tempatnya “ bisik adianti “ jangan menangis dan jangan meneteskan air mata, kita harus tegar dan tersenyum, penderitaannya sudah sampai batasnya, dan kini ia telah terbebas dari raganya. Kita berdoa saja agar ia di berikan yang terbaik “ “ bolehkan kita menemuinya “ celetuk luna. “ ya, “ Sosok itu telah kaku, tetapi bibirnya nampak tersenyum. Dan pemandangan ini benar benar meyakinkan luna, bahwa rey telah menemukan tempat indah yang kerap ia ceritakan kepadanya, tempat yang tak ada di bumi, satu persatu orang orang itu meninggalkan jasad itu, paling terakhir adalah adianti. “ rest in peace brother, thanks for everythings “ ia menyempatkan mencium kening sosok itu. Sepanjang lorong itu adianti tersenyum, mengenang segala indah bersama rey, nasihat dan segala cerita tentang alam raya, beberapa buku catatan yang di berikan kepadanya, yang mungkin akan ia baca beberapa pekan ke depan, karena rey pernah bilang buku itu baru boleh di baca jika dirinya telah tiada. Luna di percaya mengelola bisnis, dan di tangannya bisnis itu berkembang pesat, sementara adianti kini memilih menjadi dokter sukarela di pelosok negeri sembari menjalani kesenangan baru, berguru kepada alam raya, dan sebuah catatan kecil rey di sampul buku trilogynya selalu ia kenang dan ia jadikan penyemangat “ Ketika tuhan tak mewujudkan mimpimu, bukan DIA tak mendengar. Tetapi , DIA menunggumu membangun dan bekerja keras atas tanggung jawabmu atas mimpi tersebut. Dan ketika kau berfikir hidupmu tak berguna, yakinlah di luar sana banyak yang menunggumu untuk beraksi dan menemanimu berkarya di atas alam raya. “

Komentar

Postingan Populer