mornin.
Rencana besar untuk menyusuri setapak indah di tepian lembah menuju Danau Ranukumbolo sepertinya harus tertunda. Sepertinya belum saatnya kami mendapatkan restu untuk bertamu ke danau tertinggi di pulau jawa tersebut, beberapa orang mengundurkan diri begitu mendengar acara di batalkan. Meskipun sebenarnya bisa saja tetap berangkat dengan menempuh perjalanan via jalur ayag ayag, tetapi rasanya terlalu beresiko.apalagi kami hanya sekelompok anak manusia biasa yang tak terbisa berada di alam terbuka dan liar, hanya sekelompok laki laki dan wanita yang sekedar ingin meneguhkan jiwa dengan bertamu ke alam raya. dan akupun teringat akan suatu gunung, dimana sudah lama kami ingin mengunjungi gunung ini, Gunung Lawu. Ada agenda yang harus di penuhi tentang gunung ini, Ada panggilan jiwa untuk sejenak berdiam diri dan bersila di bawah gemintang sembari menikmati secangkir kopi. tetapi sekali lagi Gagal, karena salah satu anggota pasukan Delta tak bisa bergabung ia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang abdi negara. Sementara ada beberapa teman teman PA sidoarjo yang ingin kembali menpaki rimba raya pulau sempu. sepertinya ini adalah opsiterbaik daripada batal sama sekali gak kemana mana.
Baiklah, apa salahnya kembali menyusuri hutan dan setapak sepanjang pulau sempu. sembari mengenang hal hal indah dan konyol di beberapa waktu yang lalu bersama mereka, pasukan bendera merah. Dan ternyata sempu turut mengundang lagi Team backpacker yana prima yang beberapa waktu yang lalu juga berhasil menjelajah indahnya pulau ini. entah, mungkin eloknya pulau ini membawa sebuah kerinduan bagi mereka, dan ingin kembali menjelajah dalam likunya setapak berpayung kanopi hijau dan segarnya oksigen murni yang dengan bebas kita hirup sesuka sukanya tanpa perlu takut mengkalkulasi harga dan biaya yang harus di keluarkan. Jadilah aku bergabung dengan team ini dengan mengajak serta cotreck wisnu dari Black ops Mcc dan kang ibnu dari Kampoenk poto studio, pasti seru. Bersama sahabat kami menyusuri malam, berangkat dari halaman perusahaan dan tak seperti kebiasaan kami yang tiap ke Pulau sempu menggunakan armada roda dua, berjalan beriringan di pekat malam seraya membetot kabel trothtle sedalam mungkin membiarkan roda menderit di aspal malam dan membelah kesunyian. berbagi senyum dan tawa sepanjang jalan, sekali waktu berhenti di stasiun pengisian bahan bakar atau di warung warung lesehan pinggir jalan menikmati lelah dengan secangkir kopi sembari membiarkan malam beranjak menua. tetapi kali ini naik roda empat, lumayan bisa tiduran dan tak begitu perlu mikirin capek karena aku baru pulang dari shift dua langsung berangkat mbolank. sekitar jam 11 malam lebih sedikit kami menyusuri jalan. Tak lama kemudian setelah melewati ring road alternativ yang belum juga selesei di kerjakan di daerah Lapindo, beberapa orang terlelaplah sudah. Lama rasanya terlebih posisi kursi belakang yang bisa di bilang jauh dari kata Nyaman, dan sepertinya AC tak sependapat dengan kami, meski ia menyala tetapi suhu udara terasa tetap sumux..merasakan laju kendaraan yang sedikit janggal membuat aku terbangun...lho kok jalannya gini yow bathinku, sembari melihat keluar jendela yang berembun. Perasaan kalo ke pulau sempu ga kayak gini jalannya, wadow...gawat. Estimasi waktu tiba juga sudah lewat. Trus dimana kita berada ? Wisnu pun memeriksa posisi kordinat gps di suntoo watchnya, Tersesat.....wah seru..jarang jarang ke sempu pake tersesat. Menyusuri jalanan kampung yang sempit dan sedikit offroad pula. Bertemu pengguna jalan lain dan bertanya masih juga belum menemukan arah yang jelas, Untunglah setelah menggunakan INMP ( ilmu navigasi menanyai penduduk ) he he he akhirnya kembali ke rute.
Matahari sudah muncul dan mendung sedikit menutupi mentari, gagal sudah acara hunting sunrise di pantai sendang biru. Padahal kami membutuhkan foto landscape itu untuk pembuatan Tshirt mcc terbaru. Tak apalah mungkin nanti di pantai segara Anak kami akan dapat yang jauh lebih bagus. Petualangan pun di mulai. Dengan perahu kayu tim gabungan dari pasukan delta Mcc, juga kelompok cherrybella Yanaprima kami meninggalkan dermaga TPI sendang biru. Dari kejauhan tingginya ombak samudera indonesia menyambut kedatangan kami yang melintasi selat, kang ibnu mengambil gambar seorang nelayan yang menggunakan biduk kecilnya untuk memenuhi takdirnya sebagai nelayan tradisional. dan entah kemana biawak penjaga pintu sempu yang biasa nongkrong dan berenang di sekitar teluk semut yang kerap menyambut datangnya petualang di pulau sempu, melihat banyaknya intensitas kapal pengantar bisa di bayangkan betapa banyaknya pengunjung pulau ini, Banyak backpacker asal jakarta dan luar kota yang sudah terlanjur membeli tiket harus memilih destinasi alternatif. salah satunya adalah cagar Alam pulau sempu menjadi opsi utama mereka, karena masih di tutupnya jalur pendakian Gn.Semeru padahal menurut info penutupan berakhir sampai dengan akhir maret. Di mulai dari rombongan besar beriringan menapaki setapak di antara rimbunnya vegetasi pulau sempu yang masih terjaga. Semakin jauh kedalam pulau semakin kecil pula rombongan para petualang, Yang pada perjalanannya akhirnya terpisah oleh banyaknya simpangan di sepanjang jalur setapak menuju segara Anak. Menyusuri lagi kelok kelok di atas batuan karang yang tertutupi oleh lapisan tanah tipis, adakalanya karang tajam itu menyembul dan menunjukkan exsistensinya. Rimbun semak dan lebatnya vegetasi memayungi tiap jejak langkah. Melintasi bentang bentang kenangan di sepanjang setapak berliku di pulau sempu, di tiap daun dan dahan yang pernah ia lewati tak lupa ku ucapkan salam. Juga pada beberapa ranting yang merendah ke bumi seolah menawarkan uluran tangan, sesekali ku belai dan manja jemariku menyentuhnya. Pulau kenangan, pulau dengan juta kata kata dan doa, di tiap jengkal langkah yang tecetak di tanahnya tersimpan juga sumpah serapah dan rasa syukur yang mendalam.
dahan dahan kerinduan kembali menghijau
sementara bunga bunga kembali merekah indah...
adalah musim penuh pesona menggapai jiwa
menebar kasih hantarkan asmara.
ketika daun daun ilalang gemulai bergoyang
menyusuri stapak berbatu berpagar rumput liar.
gilar gilar air berbondong berseru riang....
menyanyikan indah perjumpaan di muara
aku di sini di bawah reruntuhan kelopak sakura......
di dalam dingin udara ku bermetamorfosa dalam buih warnanya
berharap kembali di sisimu.....merangkai kata.
mewarnai putih dengan bahasa cinta......
Sekitar 85 menit berjalan dengan menempuh ketinggian elevasi 40 mtr dari posisi start di teluk semut. kami berhenti di satu kelokan, Dan cotreck bersama bang ibnu lebih dulu memisahkan diri dari rombongan, untuk melakukan observasi dan kalibrasi jalur setapak. Karena sepertinya kami tersesat, Debur ombak terdengar jelas sementara jalur utama seharusnya berada jauh dari bibir pantai. Berada tepat di tengah hutan, Membiarkan temen temen bercanda dalam kondisi fresh dan santai sembari sambil mengejek satu dengan yang lain cukup menenangkan kami. setidaknya mereka tak perlu di kasih tauh selain di motivasi.
Ini kali kedua bagiku pribadi berada di simpangan ini, beberapa waktu yang lalu aku, hiawata dan alm.sasmita juga terpisah dari rombongan dan berada persis di tempat kami sekarang berada. Masih teringat jelas pepohonan dan bukit yang menanjak tinggi. Kala itu hiawata dan alm, sampai meminta maaf andai salah bicara atau berbuat yang tidak berkenan. Terdengar Wisnu memberi kode untuk mendekat, dan sejenak berkonsultasi dan menghitung arah kordinat Segara Anak, kami memutuskan terus berjalan ketimbang harus balik arah. Alhamdulilah kami menemukan sepasang petualang yang sepertinya juga salah ambil simpangan, hanya saja mereka posisi balik ke teluk semut, di hatiku muncul keyakinan bahwa sebentar lagi setapak utama akan kami temui. Benar saja, kami keluar dari setapak kecil yang sebenarnya menuju pantai lobster, pantas saja terdengar gemuruh ombak menghantam pantai. Tak lama kemudian kami melewati turunan yang di dominasi bebatuan karang tajam, kami di hadapkan pada satu jembatan karang yang oleh team MCC di namai jembatan “sirothol mustaqim “ karena ada dua track. Satu lewat batang kayu kecil kalo jatuh wes siap siap ae tattoan permanen. Kedua adalah dua batu karang yang di kasih kayu. Cenderung lebih aman tanpa masalah. Anehnya wisnu mengatakan beberapa waktu yang lalu ketika ia ke segara Anak tak melewati jembatan ini, hmm salah satu bagian misteri pulau ini memang terletak pada jalur setapak. Bahkan kami pernah berpendapat bahwa di beberapa sudut jalur setapak ada pintu pintu dimensi lain, meleng sedikit saja maka setapak asli di depan kita seakan akan hilang. Sampailah kami di ujung timur segara Anak. Bertemu dengan backpacker dari jakarta yang gilanya mereka membawa tiga galon Air minum. Dan hanya bertahan di segara anak selama 3 hari. Andai saja mereka tauh bahwa di pantai pasir panjang ada sumber air tawar mungkin tak perlu susah payah nggendong galon air yang bisa di bayangkan berapa beratnya. Menyusuri tepian Segara anak membuat memoryku terulang ketika almarhum sasmitha masih ada, bebatuan karang tempat kami biasa mbolang memasang jaring serasa menyambut sahabatnya.
pagi itu begitu biru. Aku menyusuri jejakmu di tepian pantai yang masih membeku oleh dingin hatimu. Aku mencoba temukan binaran kejora di matamu itu. Sejenak ku pandang agar tenang jiwa yang trus berperang. Pagi itu ku susuri tepian resah sesekali ku di dera gelora tanya. Akan makna hadirmu melati. Aku terdiam bak batu karang terjal menjulang.
Dan bersama kerling mentari ku temukan pancaran hangat kehidupan di wajahmu. Secerah senyum di bibirmu ku sapa mentari di ujung langit samudera biru. Dalam senyap sudut sempu membisu. Ku sematkan rindu di dahan dahan ilalalang di sepanjang pantai kembar . Ku tanggalkan segenap cinta bersama butir butir pasir di dasar segara anak nan teduh. Ku larutkan asmara bersama pekatnya lautan biru.
segera kami Menggelar plastik dan mendirikan satu tenda induk, membiarkan tubuh menyatu dengan alam sembari membiarkan otot kaki istirahat sejenak. Dan bagiku langsung nyebur ke laut adalah ritual wajib,...trenyuh...karang karang besar itu telah pergi, mereka hancur dan berserakan..melihat ke pantai, nampak pepohonan tempat dulu kami memasang hammock pun telah hilang, hanya sekumpulan pandan laut tempat biasa kami menjemur pakaian yang masih tegar. Mentari begitu menyengat di tempat ini, tak seperti biasanya. Aura pulau ini begitu mencekam, tidak ramah seperti biasa. Sudut sudutnya nampak senyap dan gelap seolah menyembunyikan sesuatu, aku dan wisnu berdua di salah satu sudut batu karang membersihkan ikan hasil membeli di TPI sendang biru, sembari mengenang masa masa ketika kami memasang jaring dan mengkonsumsi ikan hasil buruan. Seperti biasa ada saja kegilaan kami di pulau ini,
" Giliran mu " wisnu memberikan sepotong daging ikan yellow fin yang sedang di fillet, damn...daging ikan itu terasa segar dan tanpa bumbu apapun selain daging mentah lancar masuk percernaan, begitu giliran wisnu, beberapa pengunjung yang lewat di atas kami memandang penuh heran, mungkin di benak mereka.
" kurang penggawean arek iki mangan iwak mentah "
Akh menjengkelkan setiap kali di batu karang ini selalu saja ikan kami hilang, dulu satu plastik ikan hasil mbolang juga hilang pas di taruh di batu karang ini, kali ini beberapa hasil fillet lenyap. Terpaksalah aku menyelam ke dasar, untung saja sebagian besar di temukan. Menggelikan sekali aku yang susah payah menahan nafas di dasar, eh beberapa ikan karang besar lewat, seakan mengejek
" Tumben dirimu gak masang jaring ? Ayo ayo tangkap aku " menjelang senja Alam mulai menunjukkan mendung dan gerimis. Jadilah kaum backpacker berlindung di tenda masing masing.
Sesi masak masak wisnu memasak menu sup seadanya, karena memang tak ada bumbu dan alat alat masak seperti biasanya kaum mcc mbolank. Berkumpul di depan tenda mulai di lakukan, herman yang menjadi pemandu berhasil membuat suasana seru dan rame bahkan ada yang sampai tak tahan menahan tawa dan memilih menghindar. Mereka begitu akrab dan suasananya begitu hangat. dan ada saja yang harus menjadi korban ketika dalam sebuah permainan, dan pada akhirnya harus rela menjadi bulan bulanan menerima hukuman. Mengingatkan akan masa itu, ketika aku dan mereka bercengkerama di tempat ini beberapa tahun yang lalu. juga ketika senja itu ketika aku dan hiawata taruhan, berlari dari depan tenda di tepi pantai segara anak, menjelang perairan harus lepas celana, kemudian berenang ke perairan dan berputar kembali ke tenda....akh perbuatan bodoh dan konyol..yang pada akhirnya kami harus kembali ke laut lagi menjelang tenda karena di dalam tenda ada temen cewek....jadilah kami tertawaan pengunjung pantai segara anak. sebenernya ingin sekali aku request ama kang ibnu buat mainin Nothing else matternya metallica pake gitar akustik, kayake suasananya pas banget sembari menjadi backsound buat mengenang masa lalu bersama meraka. Sayangnya kini beberapa di antaranya tak ada di sini, dan salah satunya telah lebih dulu berpulang kepada sang khalik. masa lalu adalah sepotong kue manis, meski terkdang beracun dan membuat kita terjangkiti penyakit kronis. ya penyakit untuk selalu ingin kembali ke masa itu, satu bentuk ke egoisan kita untuk bisa mengendalikan semuanya. hari hari itu kami berlarian di pantai ini, berkejaran dan saling menigisi kekosongan jiwa. berenang ke tengah dengan membawa seperangkat alat bolang, bertahan dalam dinginnya air sembari menunggu ikan ikan tersangkut di jaring yang terpasang di kedalaman segara anak. akh masaih saja kerap aku dengar Tawa itu, teriakan teriakan itu, langkah kaki yang tercetak di pasir pantai segara anak, berbagi secangkir kopi hitam dan remah remah biskuit, bersama mereka pribadiku terdidik dan menjelma seperti ini.
Aku dan cotrex juga bang ibnu sedikit terpisah, kami mengobrol dengan Anjar dan mas nanang tentang banyak hal. Sembari menikmati kopi racikan cotreck wisnu, sampai akhirnya aku memilih tidur sebentar di dalam tenda. Anganku kembali ke saat itu ketika aku kembali bersama dirinya sang gadis misteri, lesung pipinya masih kerap terpampang jelas ketika ku buka buka halaman media sosialnya. Semoga Tuhan memberikan pecahan bahagia yang sama seperti kebahagian yang kini aku miliki. Semoga .
“ ron, wes wayahe "
Wisnu membangunkan aku dari dimensi lelap. akupun merangkak keluar tenda dan duduk di atas pasir sembari menikmati kopi. Sudah kebiasaan ketika kami mbolank kami selalu berusaha melewatkan sepertiga malam untuk menikmati keheningan dan keagungan langit malam. di temani rembulan yang berpendar dan di lindungi oleh cincin. Kami berdua berbicara tentang malam, tentang semesta dan semua kenangan kami di pulau ini. Tanpa menunggu lagi begitu kabut mulai menuntupi permukaan segara anak kami berdua memilih lokasi di mana kami bisa tenang dan menyatu dengan alam. Membersihkan pikiran, jiwa dan hati. Jauh di dalam lubuk jiwa dan hati kami bersujud dan tak henti hentinya mengucap puji dan syukur kehadirat Allah yang selalu menjaga kami melalui malikat malaikatnya, yang selalu memelihara kami dalam rahmatnya.kembali menyusuri liku bisu masa yang telah lalu. Mengembara pada kelam dinding kenangan nan memburam padam, kerinduan pada wangi fajar di tepian samudera biru. Pada sunyi dedaunan di puncak puncak harapan. pada senja di lembah jingga bersama dirimu telentang di tanah. Tengada menatap angkasa nan membintang.
“ Terima kasih kanjeng gusti, sudah mengijinkan kami bertamu ke tempat ini, sembah sujud kami hanya untukmu pemilik seisi alam raya. Kanjeng gusti Allah kang moho agung lan moho bijaksana “
Pantai kembali berdebur seiring cincin rembulan mulai pudar, dan debur ombak pantai segara anak mulai terdengar dan air gelombang kecil menyusuri permukaan. Kabut tipis telah lenyap dan rembulan pun terpatri indah di temani beberapa gemintang di angkasa nan begitu anggun. kami pun sembari kembali ke tenda tanpa penerangan apapun karena malam itu langit begitu terang. Setelah duduk dan berdoa kami pun Merebahkan diri di bumi dan beratap langit. Meski mata terpejam, telinga dan hati masih selalu terjaga membiarkan orang orang melakukan hal hal buruk dan menunujukkan betapa mereka tak memahami arti sebuah kekuatan sejati dan kami hanya terdiam di bawah payungan perlindungan Allah yang tak terkalahkan dan hanya Dia yang memiliki segala kekuatan. Dan ketika fajar tiba....kamipun menyambut alam raya yang begitu mempesona. Menghirup rahayu fajar, ku bangunkan wisnu dan akupun beranjak berjalan ke pantai. Membenamkan kaki dan menyeimbangkan lenganku, menghirup energi positif pagi. Menyucikan mimpi dan fikiran fikiran buruk, memejamkan mata dan memohon Ampunan kepada-Nya.
Aku terdampar di birunya kerinduan padamu. Sepertinya busur busur kasmaran memecah angkasa nan berpendar sayu. Dan ku temukan pecahan senyum di latar pekat berjelaga di langit renta jiwaku. Padamu masih ku simpan sebuket cinta meski hanya bisa ku dekap dalam segenggam memori. Dan aku , masih di sini di paparan lembar lembar masa lalu terjerembab oleh pudarnya waktu yang perih. Derita ini seakan tiada bertepi………ketika itu di dekap dingin butir butir pasir di dermaga biru pantai panjang. Ku berlari di pelataran hatimu mencoba mencari pintu dimana ku temukan adanya dirimu. Pada jendela jendela kusam dan membiru oleh luka lama dan membekas semu. Dan begitu banyak dedaunan sesal bertumpu di dahan dahan ringkih hatimu. Dan ku terus tertatih di setapak berkerikil untuk menggapai tebing angkuhmu
yah bersama ombak yang mengejar mentari akupun terus saja berlari. Dan terus berlari di sepanjang labirin transparan tercipta oleh pesona wajahmu. Tiada alasan tuk berhenti tuk sejenak menari. Di kepak sayap harapan ku mengangkasa di telaga rindumu. Mencari dasar dari buih buih setiamu. aku di sini ! Di lembar hampa guratan masa tertinggal rasa dan tercerabut cinta keemasan cahayanya di kala senja. Menemaniku di pelataran nisan perakmu. Di belai hangat angin senja mengembara di kolong angkasa menerpa perih merajut doa, hanya air mawar yang ungu ku tebarkan di sebagian jiwa. menepis dukaku atas tiadamu. Lihatlah dedaunan waru telah terpapar cahaya pilu di kesekaratan hari perlahan gelap pun memperkosa tiap petak biasnya, aku terkesiap di bawah naungan gemintang tanpa tauh apa kah itu geometri ataukah pythagoras angkasa. Aku masih di sini menanti cawan rindu bertahta restu…
bilahkah reda rasa ini… kan ku sunting bunga kenanga di sandingan nisan kasih. Bila mana bintang telah padam dan pergi ke angkasa nan membuncah warna silau ku akan bangun dan meninggalkan padepokan asmaradanamu. Ketika itu ku akan menulis warna angkasa dengan namamu dan ku biarkan larut bersama butir butir embun di fajar surya. Dan ku cipta puisi betapa ku mencintaimu…
Air segara anak terasa hangat membasuh jemari kakiku yang terendam dalam butir butir pasir yang dulunya adalah bagian dari karang karang besar, tergerus oleh waktu dan gelombang pasang surut. Pengajaran bagi kita yang mau berfikir, betapa alam raya menunjukkan kesabaran adalah sebuah proses panjang. Fajar membiru mengantarku berdiri di teras karang yang menghadap samudera, gemuruh ombak memecah sunyi dengan deru tanpa ragu. Semua yang terjadi ini bukanlah sebuah kebetulan, tak ada teori tentang kebetulan. Semua sudah di atur oleh yang maha kuasa, mungkin. Rencana ke ranukumbolo memang di alihkan oleh-Nya ke pantai ini agar kami belajar lebih banyak lagi kepada laut pantai dan pasir pasir-Nya. Sebelum kami menapaki liku liku pegunungan, kami di bekali dengan kerendahan jiwa. Kesadaran penuh betapa kita bukan apa apa. Bukankah gunung itu secara simbolik adalah sebuah segitiga. Dimana mengerucut ke atas pada satu sudutnya, di mana secara falsafah itu melukiskan hubungan kita dengan Tuhan, dan bagian bawah yang mendatar adalah gambaran hubungan kita dengan sesama, baik dengan manusia, alam raya dan semua makhlukNya baik di bumi dan di langit.
aku hanya batang hampa di pengembaraan masa
terdiri dari debu dan kekosongan udara berunsur biru
terpias oleh cahaya rembulan di kaki angkasa
terendap di dalam bentang luas samudera dan perlahan luruh
wahai butir butir pasir di pelataran jiwa nan renta
terbanglah di desau angin berkejar mentari jingga
duhai bulu perindu begetarlah dalam helai helai suara gemetar genta
merayapi senja dan membahana ke alam tak terhingga
aku hanya nama...
dalam tiap helai ilalang patah di punggungan puncak prawitra
menyepi di bingkai malam tanpa kursi atapun alas hati
berharap damai alam lestari musnahkan pancaran citra
dan ku kembali menjadi bukan apa apa....
Perjalanan pulang begitu seru, di karenakan padatnya jalur setapak dan bekas hujan tadi malam membuat jalur benar benar hancur. Aku, wisnu dan kang ibnu terpisah oleh rombongan karena kami menyempatkan mandi di sudut segara Anak, bukan tanpa alasan. Tetapi, karena jengah dengan padatnya jalur dan adanya masalah dengan carrierku, tak seberapa lama kamipun mulai menyusul rombongan. Dan bertemu dengan beberapa pengunjung pantai yang membawa serta balita mereka, perjalanan yang penuh dengan liku. Simpangan dan sudut sudut genangan air yang siap menjebak pejalan yang kurang waspada. Sama persis seperti jalan hidup kita, tak seberapa lama kami berpapasan dengan rombongan besar temen temen yang kami tunggu, ternyata mereka ngecamp di pantai lobster terlebih dahulu.
Menjelang teluk semut aku dan wisnu berhenti untuk sekedar membuka botol minuman dan duduk duduk di pohon yang roboh, sembari bersapa hangat dengan pengunjung yang lain. mengambil beberapa gambar dan juga membuka cemilan. heran, kenapa carrierku berasa berat banget padahal isinya sudah berkurang banyak. bahkan kedua gesper shoulder patah. untung aja bisa sedikit memodifikasi tali temali hingga carrier bisa di gendong kembali, Setelah otot kaki mulai bisa di ajak kompromi kamipun kembali berjalan menyusuri setapak yang begitu licin dan memaksaku harus extra hati hati mengingat aku tak menggunakan alas kaki lagi, aku gak mau mengulang kejadian menjadi kura kura terjerembab dalam kubangan setapak sempu lagi. akh..beberapa kali harus terhenti karena berpapasan rombongan yang baru datang dengan keceriaan di wajah mereka tanpa mereka tauh betapa sukarnya perjalanan ke segara anak ketika jalur licin dan berlumpur seperti ini. lagi lagi aku harus tertatih dan tertingal di belakang kang ibnu, sampai kemudian wisnu memberi kode di depan. dan kami berjalan di setapak yang lebih tinggi, sementara terlihat mbak dwi Ang dan suami, juga mbak herny yang terpisah oleh rombongan menyusuri setapak utama yang hampir tak bisa lagi di kenali. tak jauh dari meeting point, kami kembali berhenti dan membagi makanan kecil yang masih banyak tersisa, Dan, ketemu juga botol air yang sedari tadi di cari cari gak nongol, begitu gak di cari aja eh nongol di carrier. setelah merasa siap dan kaki juga sudah rindu akan rendaman air laut. Kamipun kembali menjadi satu kelompok kecil yang menyatu dengan kelompok kecil yang lain, meski tak perlu bertanya nama, kami bisa dengan mudahnya membaur dan saling membantu. Sebuah keragaman manusiawi yang indah. Yang tak perlu mencari sebuah perbedaan, melainkan menemukan sebuah kesamaan dan persamaan rasa atas cinta tanah air dan bangsa. Teluk semut akhirnya menyambut kami bersama ledekan temen temen yang nyampai duluan. tetapi kembali Tuhan mengajarkan arti kesabaran, dimana semua yang kita harapkan tak selalu terwujud nyata, air di teluk semut surut hingga ke tengah, gagal sudah mandi air laut teluk semut. sembari memeriksa semua bawaan sebelum meninggalkan teluk semut aku dan wisnu berjalan ke arah pepohonan d teluk semut. di situlah akhirnya kami temukan sang biawak yang sedang bersembunyi di bawah dedaunan pohon pohon yang merendah ke pantai. sebelum pulang aku dan wisnu juga kang ibnu, herman dan mbak debbin mampir untuk mandi di tempat biasa. sudah adatnya kalo keluar pulau sempu kudu makan ice campur di sini hi hi hi sembari gantian mandi. melihat sticker mcc versi beberapa tahun yang lalu kami lekatkan di kaca warung itu. memberi kesadaran padaku bahwa bersatu itu mudah tetapi mempertahankan kesatuan dalam kebersamaan adalah hal berat yang harus terus di perjuangkan. ....sebuah perjalanan yang seru di akhir minggu. Semoga perjalanan ini memberi kita pelajaran dan pemahaman akan maknah sebuah hidup, perjuangan, kesabaran dan ketuhanan. mari kita menjadi manusia indonesia yang berketuhanan dan ber Bhineka tunggal ika.
Sidoarjo. 15 April 2013.
Joint team Adventures
Cari Blog Ini
selamat datang duhai pengembara, singgahlah sejenak di angkasa hampa ini dan berilah warna meski hanya sebuah titik pekat.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar